Total Tayangan Laman

Rabu, 22 Mei 2013

Administrasi Hubungan Sekolah dengan Masyarakat


BAB I
PENDAHULUAN

Keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses pendidikan di sekolah dan tersedianya sarana dan prasarana saja, tetapi juga ditentukan oleh lingkungan keluarga dan masyarakat. Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah (sekolah), keluarga dan masyarakat. Ini berarti mengisyaratkan bahwa orang tua murid dan masyarakat mempunyai tanggung jawab untuk berpartisipasi, turut memikirkan dan memberikan bantuan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
Partisipasi yang tinggi dari orang tua murid dalam pendidikan di sekolah merupakan salah satu ciri dari pengelolaan sekolah yang baik, artinya sejauh mana masyarakat dapat diberdayakan dalam proses pendidikan di sekolah adalah indikator terhadap manajemen sekolah yang bersangkutan. Pemberdayaan masyarakat dalam pendidikan ini merupakan sesuatu yang esensial bagi penyelenggaraan sekolah yang baik. Tingkat partisipasi masyarakat dalam proses pendidikan di sekolah ini nampaknya memberikan pengaruh yang besar bagi kemajuan sekolah, kualitas pelayanan pembelajaran di sekolah yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kemajuan dan prestasi belajar anak-anak di sekolah.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa keterlibatan masyarakat mempunyai peran yang cukup besar bagi perkembangan organisasi di masa yang akan datang. Begitu juga dengan sekolah, suatu sekolah bisa dikatakan sukses jika mampu mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Karena bagaimanapun juga pendidikan adalah tanggungjawab bersama antara orang tua, sekolah dan masyarakat.




BAB II
ADMINISTRASI HUBUNGAN MASYARAKAT

A.   Hakikat Administrasi Hubungan Masyarakat
Administrasi Hubungan Sekolah dengan Masyarakat merupakan seluruh proses kegiatan yang di rencanakan dan diusahakan secara sengaja dan bersungguh-sungguh serta pembinaan secara kontinu untuk mendapatkan simpati dari masyarakat pada umumnya serta dari publiknya pada khususnya, sehingga kegiatan operasional sekolah/pendidikan semakin efektif dan efisien demi membantu tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. (Ary H Gunawan, 1996: 186)
Sekolah dipandang masyarakat sebagai “rumah harapan” (expectancy house). Jalinan hubungan antara sekolah dengan masyarakat telah terentang secara natural. Karena dua kepentingan yang searah antara sekolah sebagai pusat pembinaan yang menginternalisasikan dan mengeksternalisasikan nilai dengan masyarakat yang dengan tempo perkembangannya yang cepat mengharapkan sekolah sebagai accelerator perubahan dan kemajuan maka suatu kemestian untuk jalinan yang terentang sebagai suatu accident itu menjadi bersifat design. Sehingga bukan sebagai jalinan yang erat tetapi suatu jembatan yang kokoh mendukung kepentingan pencapaian tujuan pendidikan secara maksimal.
Tugas utama hubungan masyarakat yaitu:
1.    Membuat publikasi tentang keadaan pendidikan dan pengajaran disekolah dan menginformasikan prestasi serta ciri-ciri khasnya.
2.    Menyebarkan informasi tentang keutamaan sekolah.
3.    Membina hubungan baik dengan masyarakat dan kelembagaan masyarakat yang ada.
4.    Menumbuhkan dorongan dari masyarakat terhadap pendidikan dan pengajaran yang diselenggarakan.
5.    Melayani kepentingan masyarakat terutama para orang tua siswa tentang berbagai urusan dan informasi sekolah dan tentang anaknya. (Fachruddin: 56)
Hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakikatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah. Dalam hal ini, sekolah sebagai sistem sosial merupakan bagian integral dari sistem sosial yang lebih besar yaitu masyarakat. Sekolah dan masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat dalam mencapai tujuan sekolah atau pendidikan secara efektif dan efisien. Sebaliknya sekolah juga harus menunjang pencapaian tujuan atau pemenuhan masyarakat, khususnya kebutuhan pendidikan. Sehingga jelaslah antara sekolah dan masyarakat harus dibina suatu hubungan yang harmonis. (Mulyasa, 2004: 50)
Hubungan yang harmonis antara sekolah dan masyarakat ini semakin dirasakan pentingnya pada masyarakat yang telah menyadari dan memahami pentingnya pendidikan bagi anak-anak. Namun tidak berarti pada masyarakat yang masih kurang menyadari akan pentingnya pendidikan.
Jika hubungan sekolah dan masyarakat berjalan dengan baik, rasa tanggung jawab dan partisipasi masyarakat untuk memajukan sekolah juga akan baik dan tinggi. Agar tercipta hubungan dan kerja sama yang baik antara sekolah dan masyarakat, masyarakat perlu mengetahui dan memiliki gambaran yang jelas tentang sekolah yang bersangkutan.
Dalam dunia pendidikan dikenal 2 macam hubungan (komunikasi):
a)     Komunikasi dalam penyelenggaraan program pendidikan (intern) dengan masyarakat sekolah. Dalam hal ini administrasi sekolah/pendidikan hendaklah membina para guru dan murid untuk:
1.    Belajar membaca secara komprehensif, diskriminatif dan kritis.
2.    Belajar mendengarkan secara tepat dan kritis, menilai dan menimbangkan gagasan yang di dengarnya.
3.    Sanggup mengekspresikan  dalam berbicara yang jelas, lancar dan efektif.
4.    Sanggup mengemukakan pendapatnya / gagasannya dalam bentuknya tertulis sehingga orang lain dapat membaca dan mengerti.
5.    Sanggup mengadakan penialian secara kritis terhadap apa yang dilihatnya.
b)     Komunikasi dengan masyarakat di luar sekolah
            Adalah merupakan suatu kenyataan bahwa, sekolah tidak merupakan sesuatu yang berdiri sendiri terpisah dari dunia luar, melainkan berada dalam suatu sistem masyarakat yang telah tetap.
            Kehadiran sekolah berlandaskan kemauan baik negara dan masyarakat yang mendukungnya. Oleh karena itu orang-orang yang bekerja di sekolah mau tidak mau harus bekerja sama dengan masyarakat. Masyarakat disini dapat berwujud orang tua murid, badan-badan, organisasi, baik negeri maupun swasta. Salah satu alasan mengapa sekolah perlu dukungan dari masyarakat tempat sekolah itu berada ialah karena sekolah harus dibiayai. Tugas sekolah disini ialah bagaimana menumbuhkan rasa ikut memiliki  dan rasa ikut bertanggung jawab masyarakat terhadap sekolah. (Daryanto, 1998: 71-72)
Hal yang tak bisa dipungkiri bahwa sekolah adalah subsistem dari system sosial. Keberadaan sekolah tidak memisahkan diri atau tersaing dari masyarakatnya. Bagaimanapun masukan dana adalah berasal dari masyarakat. Lebih dari itu, di satu sisi sekolah memerlukan dukungan dari masyarakat baik berupa calon murid/ pendaftar, maupun pembiayaan (SPP/DPP) dalam melaksanakan program sekolah. Di lain pihak, masyarakat memerlukan sekolah sebagai lembaga pelayanan jasa untuk mendapatkan program yang baik sesuai yang diinginkan.
Administrasi suatu sekolah dengan masyarakat juga tidak terlepas hubungan suatu sekolah dengan sekolah lainnya. Hubungan sekolah dengan pemerintah daerah setempat, hubungan sekolah dengan semua unsur masyarakat, hubungan sekolah dengan lembaga social kemasyaraktan, serta hubungan sekolah dengan organisasi setempat.
Sekolah, madrasah, dan pesantren memfungsikan komunikasi eksternal dengan masyarakat. Berbagai informasi tentang lembaga pendidikan yang dipimpin baik program kurikulum, visi, misi, metode pembelajaran baru, perkembangan sarana, prasarana dan fasilitas, serta prestasi akademik pelu dikomunikasikan melalui berbagai media, pertemuan, rapat, bazaar, perlombaan, kerjasama.
Adapun motor penggerak dari hubungan sekolah dengan masyarakat adalah kepala sekolah, pengawas dan para guru yang bertugas pada setiap sekolah. Hal itu menjadi tanggung jawab semua administrator sekolah agar keberadaan sekolah benar-benar eksis di masyarakat dan mendapat dukungan serta keterlibatan yang tinggi dari masyarakat terhadap semua program, permasalahan, dan pengembangan suatu sekolah. Keberadaan komite sekolah dan Dewan Pendidikan harus benar-benar dimanfaatkan kepala sekolah untuk menjalin kerjasama dalam memajukan kualitas sekolah. (syafaruddin, 2005:138)
Kepala sekolah yang baik merupakan salah satu kunci untuk bisa menciptakan hubungan yang baik antara sekolah dan masyarakat secara efektif karena harus menaruh perhatian tentang apa yang terjadi pada peserta didik di sekolah dan apa yang dipikirkan orang tua tentang sekolah. Kepala sekolah dituntut untuk senantiasa berusaha membina dan meningkatkan hubungan kerja sama yang baik antara sekolah dan masyarakat guna mewujudkan sekolah yang efektif dan efisien. Hubungan yang harmonis ini akan membentuk:
1.    Saling pengertian antara sekolah, orang tua, masyarakat, dan lembaga-lembaga lain yang ada di masyarakat.
2.    Saling membantu antara sekolah dan masyarakat karena mengetahui manfaat, arti dan pentingnya peranan masing-masing.
3.    Kerjasama yang erat antara sekolah dengan berbagai pihak yang ada di masyarakat dan mereka merasa ikut bertanggung jawab atas suksesnya pendidikan di sekolah.
Melalui hubungan yang harmonis tersebut diharapkan tercapai tujuan hubungan sekolah dan masyarakat, yaitu terlaksananya proses pendidikan di sekolah secara produktif, efektif, dan efisien sehingga menghasilkan lulusan sekolah yang produktif dan berkualitas. (Mulyasa, 2004: 50)
B.   Tujuan Program Hubungan Masyarakat
1.    Untuk mengembangkan pemahaman tentang maksud-maksud dan sasaran dari sekolah.
2.    Untuk menilai program sekolah dalam kata-kata kebutuhan-kebutuhan yang terpenuhi.
3.    Untuk mempersatukan orang tua murid dan guru-guru dalam memenuhi kebutuhan anak didik.
4.    Untuk mengembangkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan sekolah dalam era pembangunan.
5.    Untuk membangun dan memelihara kepercayaan terhadap sekolah.
6.    Untuk memberitahu masyarakat tentang pekerjaan sekolah.
7.    Untuk mengerahkan bantuan dan dukungan bagi pemeliharaan dan peningkatan program sekolah. (Oteng Sutisna, 1989: 170)

C.   Unsur-unsur yang Terlibat dalam Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Adapun unsur-unsur yang terlibat dalam hubungan sekolah dengan masyarakat yaitu:
1.    Sekolah
Sebagai pusat pendidikan formal, sekolah berkembang dari pemikiran efisiensi dan aktivitas dalam pemberian pendidikan kepada masyarakat. Artinya, sekolah sekolah sebagai pusat pendidikan formal merupakan perangkat masyarakat yang diserahi kewajiban untuk memberikan pendidikan. Haluan tersebut tercermin dalam falsafah, tujuan, penjenjangan, kurikulum, pengadministrasian, dan pengelolaannya.
2.    Orang Tua Murid
Hubungan antara sekolah dengan orang tua murid hendaknya dibawa ke dalam hubungan yang konstruktif dengan program sekolah. Orang tua tidak dapat terlepas sama sekali dari hubungannya dengan sekolah. Oleh karena itulah hubungan antara keduanya hendaknya dibimbing lebih simpatik.
3.    Murid dan Guru
Murid merupakan unsur sekolah yang sangat penting begitu juga guru tanpa ada murid maka sekolah tidak akan ada. Tugas guru bukan hanya sekedar menyampaikan ilmu pengetahuan kepada murid, tetapi juga harus memperhatikan tingkah laku, pergaulan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan murid. (Soetopo dan Soemanto, 1982: 241)

D.   Sifat-sifat Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Adapun sifat hubungan sekolah dengan masyarakat dapat merupakan :
1.    Hubungan timbal balik yang menghasilkan manfaat bagi kedua belah pihak.
2.    Hubungan yang bersifat sukarela berdasarkan prinsip bahwa sekolah merupakan bagian yang tak terpisahkan (integral) dari masyarakat.
3.    Hubungan yang bersifat kontinu/berkesinambungan antara sekolah dengan masyarakat.
4.    Hubungan keluar kampus atau “external public relation” guna menambah simpati masyarakat terhadap sekolah.
5.    Hubungan dalam kampus atau “internal public relation” guna menambah keyakinan atau mempertebal pengertian para sivitas akademika tentang segala pemilikan material dan nonmaterial sekolah.
Dengan adanya hubungan-hubungan tersebut di atas dapatlah terjalin kreativitas akademika kedua belah pihak yang inovatif. Selain itu dapat memadukan hubungan antara kehidupan sekolah dan kehidupn masyarakat. (Ary H. Gunawan, 1996: 190)

E.   Prinsip Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Untuk mencapai tujuan kerja sama sekolah dengan masyarakat, ada beberapa prinsip sebagai pedoman untuk melaksanakannya, yaitu yang dikemukakan oleh Elsbree (Soetopo, 1982: 243).
1.    Ketahuilah apa yang Anda yakini. Dalam hal ini, merupakan tugas kepala sekolah untuk mengembangkan filsafat pendidikan yang menjadi dasar dan tujuan pendidikan di sekolah agar guru-guru dan staf tata usaha sadar akan apa yang dikerjakan di sekolah sehingga tidak ada kesimpangsiuran dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran.
2.    Laksanakanlah program pendidikan dengan baik dan bersahabat dengan masyarakat. Maksudnya, untuk mencapai kerja sama dan memperoleh bantuan dari masyarakat, buatlah program belajar bagi anak-anak sebaik mungkin, buatlah sekolah yang dapat menciptakan suasana yang bahagia dan situasi belajar yang menggairahkan bagi murid. Dan sekolah hendaknya melayani setiap orang yang datang ke sekolah itu secara bersahabat.
3.    Ketahuilah masyarakat Anda. Masyarakat sekolah hendaknya benar-benar mengetahui keadaan masyarakat di daerah itu, baik sifat dan problemnya maupun sumber-sumber yang ada dalam masyarakat tersebut.
4.    Adakan survey mengenai masyarakat di daerah tertentu. Survey itu perlu untuk menghimpun informasi yang meliputi aspek kehidupan masyarakat dan kondisinya. Pengenalan dalam masyarakat merupakan bahan dalam penyusunan hasil survey yang membantu anak-anak dadlam meningkatkan keingintahuan tentang orang-orang yang ada di sana, kejadian-kejadian, masa depan masyarakat, dan membangkitkan minat anak-anak untuk mengadakan penelitian tentang kesejahteraan masyarakat tersebut dan juga akan terbukanya pintu untuk kerja sama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat.
5.    Bahan-bahan dokumen. Dalam menyelidiki dan mempelajari keadaan masyarakat itu melalui dokumen-dokumen dari sumber-sumber seperti kantor sensus, lembaga-lembaga ilmiah, dan sebagainya.
6.    Keanggotaan dalam organisasi masyarakat. Banyak faedah dan tujuan yang akan diperoleh dari sekolah, tidak hanya mengetahui dari luar tetapi juga dari dalamdengan jalan menjadi anggota dari organisasi kepemudaan kebudayaan, dan sebagainya. Tujuan masuk organisasi bukan merumuskan sekolah tetapi cara bagaimana mereka dapat mengerti kepentingan sekolah serta turut membantu sekolah.
7.    Adakan kunjungan ke rumah. Banyak tujuan dan faedah yang akan diperoleh dari kunjungan guru ke rumah orang tua murid, baik untuk tujuan proses perkembangan anak maupun untuk menghimpun informasi tentang masyarakat di daerah tersebut.
8.    Layani masyarakat di daerah Anda. Sekolah melayani anak-anak dari masyarakat melalui pendidikan dan pengajaran, tetapi sekolah akan menjadi lebih baik bila dijadikan pusat kegiatan masyarakat. Misalnya pada suatu sekolah ada perpustakaan untuk masyarakat, tempat pertemuan, dan sebagainya. Sedangkan pengaturan kegiatan tersebut direncanakan dan dilaksanakan bersama.
9.    Doronglah masyarakat untuk melayani sekolah. Ada beberapa prinsip penggunaan masyarakat untuk mencapai atau melayani sekolah, yaitu:
a.    Adakanlah hubungan yang baik dengan tokoh-tokoh dalam masyarakat yang dapat memberi bantuan berupa materi, tenaga, dan waktu demi kepentingan sekolah.
b.    Mohon bantuan pada pendidik dalam masyarakat untuk melayani sekolah.
c.    Memajukan program belajar anak-anak dan tingkatan mutu belajar melalui kemampuan dan pelayanan tokoh-tokoh masyarakat tapi pelaksanaan program tersebut hendaknya direncanakan dan diatur dengan baik.

F.    Berbagai Media Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
       Dalam pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat akan diperlukan sarana atau alat yang sering disebut dengan media komunikasi atau mass media
1.    Sistem visual yaitu sistem komunikasi dengan mempergunakan alat-alat yang dapat dilihat oleh indra mata. Contohnya: majalah, gambar, poster.
2.    Sistem audio yaitu dengan menggunakan alat-alat yang berhubungan dengan indra pendengaran. Contohnya: tatap muka, rapat, dan kontak melalui telepon.
3.    Sistem audio visual yaitu sistem komunikasi dengan menggunakan alat-alat indra penglihatan dan pendengaran.
       Pada umumnya di dalam pelaksanaannya sekolah sering menggunakan kombinasi. Baik kombinasi secara lisan dan tertulis. Dan operasionalnya bisa secara formal dan informal. (Daryanto, 1998: 76)

G.   Bentuk-bentuk Operasional dari Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Bentuk-bentuk operasional hubungan sekolah dengan masyarakat bisa bermacam-macam tergantung pada kreativitas sekolah, kondisi dan situasi sekolah, fasilitas, dan sebagainya.
1.    Di bidang sarana akademik tinggi/rendahnya prestasi lulusan ((kuantitas dan kualitas), penelitian, karya ilmiah (local, nasional, internasional), jumlah dan tingkat kesarjanaan guru-gurunya.
2.    Di bidang prasarana pendidikan gedung/bangunan sekolah termasuk  sekolah termasuk ruang-ruang belajar, ruang-ruang belajar, ruang  praktikum, ruang kantor, dan sebagainya.
3.    Di bidang sosial partisipasi sekolah dengan masyarakat sekitarnya seperti kerja bakti, perayaan hari besar nasional/keagamaan, pengamanan lingkungan, tamanisasi, kebersihan dan sebagainya.
4.    Kegiatan karyawisata juga bisa dijadikan sarana Husemas.
5.    Kegiatan olah raga dan kesenian juga dapat merupakan sarana Husemas.
6.    Menyediakan fasilitas sekolah untuk kepentingan masyarakat sekitar sepanjang tidak mengganggu kelancaran PBM.
7.    Mengikut sertakan sivitas akademika sekolah dalam kegiatan-kegiatan masyarakat sekitarnya.
8.    Mengikut sertakan tokoh-tokoh/pemuka-pemuka/pakar-pakar masyarakat dalam kegiatan kurikuler dan ekstrakulikuler sekolah.
9.    Dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan operasional Husemas yang dapat dikreasikan sesuai situasi, kondisi, serta kemampuan-kemampuan pihak-pihak terkait. (Ary H Gunawan, 1996: 188)

H.   Mengorganisasi Program Hubungan Masyarakat
Ada sejumlah hal yang harus dipertimbangkan apabila suatu program hubungan masyarakat  yang efektif hendak dibangun. Yang paling pokok ialah bahwa administrator sekolah harus mengenal dan memahami keinginan-keinginan dan aspirasi-aspirasi masyarakat sekolahnya. Sehubungan dengan ini beberapa pertanyaan dasar yang ia harus mencoba menjawabnya terlebih dulu adalah yang berikut ini.
1.    Apa yang telah diketahui masyarakat tentang sekolah itu?
2.    Apa yang ingin masyarakat ketahui tentang sekolah itu?
3.    Apa yang sekolah inginkan supaya masyarakat mengetahui tentang sekolah itu?
4.    Bagaimana hendaknya mengajar murid-murid sehingga mereka akan memberikan tafsiran yang sesuai kepada orang tua mereka?
5.    Bagaimana hendaknya para guru dilatih dalam hubungan masyarakat dan siapa yang ingin memberikan latihan seperti itu?
6.    Bagaimana program hubungan masyarakat dan pertimbangan-pertimbangan finansial yang diperlukan untuk mendukung program itu bisa dijelaskan dengan lebih efektif kepada orang tua murid dan masyarakat?
7.    Bagaimana suatu program hubungan masyarakat bisa diterima masyarakat sebagai sesuatu yang diciptakan bagi kepentingan murid-murid dan bukan bagi kepentingan para guru?
Setelah pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan memuaskan oleh administrator, maka dapat dilakukan penyusunan program. (Oteng Sutisna, 1989: 172)

I.      Jalur-jalur Komunikasi Sekolah dengan Masyarakat
       Ada beberapa jalur yang mungkin dapat ditempuh walaupun demikian jalur yang paling menguntungkan adalah jalur yang langsung berhubungan dengan murid dan situasi pertemuan langsung. Jalur-jalur yang dapat ditempuh yaitu:
1.    Anak/ murid
Anak / murid merupakan mata rantai komunikasi yang paling efektif antara masyarakat dengan sekolah. Segala sesuatu dilihat, dihayati dan dirasakan di sekolah dapat dikomunikasikan dengan orang tuanya.
2.    Surat-surat selebaran dan buletin sekolah
Biasanya orang tua akan membaca dengan cermat selebaran dan buletin yang langsung diterima dari sekolah. Oleh sebab itu komunikasi tertulis ini harus berisi sesuatu yang diperlukan orang tua murid.
3.    Mass Media (media massa)
Media massa seperti radio, surat kabar, televisi merupan media yang sangat berharga untuk menyampaikan informasi kepada orang tua murid, walaupun efektifitasnya sering dilebih-lebihkan.
4.    Pertemuan informal
Para guru dan staf lainnya mengadakan hubungan dengan warga masyarakat secara tidak resmi, dengaan santai.
5.    Laporan kemajuan murid (rapor)
Laporan kemajuan murid yang secara formil disampaikan kepada orang tua merupakan alat lain bagi sekolah untuk berkomunukasi dengan orang tua.
6.    Kontak formal
Hal ini dapat dilakukan melalui pertemuan resmi. Masyarakat atau orang tua diundang secara resmi oleh sekolah.
7.    Memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia di masyarakat
Umumnya para guru memanfaatkan sumber-sumber tersedia di masyarakat dalam menghidupkan dan memperkaya program pengajaran. Misalnya pemanfaatan tokoh-tokoh masyarakat, ataupun dengan jalan karyawisata.
8.    Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3)
Organisasi ini bekerja sama dengan sekolah dalam mengembangkan hubungan-hubungan yang sehat antara sekolah dengan masyarakat, BP3 ini merupakan wadah, sehingga kepala sekolah, guru, dan masyarakat dapat melakukan komunikasi dan memberikan informasi tentang inovasi-inovasi yang sedang dijalankan dalam program pengajaran dewasa ini. ( Daryanto, 1998: 77-79)



BAB III
SIMPULAN

Hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakikatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah. Jika hubungan sekolah dan masyarakat berjalan dengan baik, rasa tanggung jawab dan partisipasi masyarakat untuk memajukan sekolah juga akan baik dan tinggi. Agar tercipta hubungan dan kerja sama yang baik antara sekolah dan masyarakat, masyarakat perlu mengetahui dan memiliki gambaran yang jelas tentang sekolah yang bersangkutan.
Kehadiran sekolah berlandaskan kemauan baik negara dan masyarakat yang mendukungnya. Oleh karena itu orang-orang yang bekerja di sekolah mau tidak mau harus bekerja sama dengan masyarakat. Masyarakat disini dapat berwujud orang tua murid, badan-badan, organisasi, baik negeri maupun swasta. Salah satu alasan mengapa sekolah perlu dukungan dari masyarakat tempat sekolah itu berada ialah karena sekolah harus dibiayai.



DAFTAR PUSTAKA


Daryanto. 1998.  Administrasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Fachruddin. Administrasi Pendidikan. Citapustaka Media
Gunawan, Ary H. 1996. Administrasi Sekolah (Administrasi Pendidikan Mikro). Jakarta: Rineka Cipta
Mulyasa. 2004. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Soetopo, Hendyat dan Wasty Soemanto. 1982. Pengantar Operasional Administrasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional
Sutisna, Oteng. 1989. Administrasi Pendidikan. Bandung: Angkasa
Syafaruddin, dkk. 2005. Administrasi Pendidikan. Medan: IAIN Press








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar